PEMBELAJARAN TEMATIK
TERPADU, PENDEKATAN SAINTIFIK, DAN PENILAIAN AUTENTIK
A. Pembelajaran Tematik
Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu
(PTP) atau integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan pertama
kali pada awal tahun 1970-an. Belakangan PTP diyakini sebagai salah satu model
pembelajaran yang efektif (highly effective teaching model) karena mampu
mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan akademik
peserta didik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. PTP pada awalnya
dikembangkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented),
anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang
belajar cepat. PTP ini pun sudah terbukti secara empirik berhasil memacu
percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik (enhance learning
and increase long-term memory capabilities of learners) untuk waktu yang
panjang.
Premis utama PTP adalah bahwa
peserta didik memerlukan peluang-peluang tambahan (additional opportunities)
untuk menggunakan talentanya, menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara
cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis. Pada sisi lain, PTP relevan untuk
mengakomodasi perbedaan-perbedaan kualitatif lingkungan belajar. PTP diharapkan
mampu menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.
PTP memiliki perbedaan
kualitatif (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain. PTP
sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher
levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi
kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi
pengembangan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Implemementasi PTP menuntut
kemampuan guru dalam mentransformasikan materi pembelajaran di kelas. Karena
itu, guru harus memahami materi apa yang diajarkan dan bagaimana
mengaplikasikannya dalam lingkungan belajar di kelas. Oleh karena PTP ini
bersifat ramah otak, guru harus mampu mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan
yang mungkin relevan dan dapat dioptimasi ketika berinteraksi dengan peserta
didik selama proses pembelajaran.
1. Pengertian
Pembelajaran tematik merupakan
salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan
beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi
peserta didik. Pembelajaran terpadu didefinisikan sebagai pembelajaran yang
menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik
antar mata pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran. Pembelajaran tematik
memberi penekanan pada pemilihan suatu tema yang spesifik yang sesuai dengan
materi pelajaran, untuk mengajar satu atau beberapa konsep yang memadukan
berbagai informasi.
Pembelajaran tematik berdasar
pada filsafat konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan yang dimiliki
peserta didik merupakan hasil bentukan peserta didik sendiri. Peserta didik
membentuk pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan, bukan hasil
bentukan orang lain. Proses pembentukan pengetahuan tersebut berlangsung secara
terus menerus sehingga pengetahuan yang dimiliki peserta didik menjadi semakin
lengkap.
Pembelajaran tematik menekankan
pada keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga
peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untukdapat
menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Teori pembelajaran
ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan
bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan
anak.
Pembelajaran tematik lebih
menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning
by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman
belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar peserta didik. Pengalaman
belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses
pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang
dipelajari akan membentuk skema, sehingga peserta didik akan memperoleh
keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, penerapan pembelajaran tematik
di sekolah dasar akan sangat membantu peserta didik dalam membentuk
pengetahuannya, karena sesuai dengan tahap perkembangannya peserta didik yang
masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
2. Karakteristik
Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki
ciri khas, antara lain:
a. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan
tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar;
b. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan
pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik;
c. Kegiatan belajar dipilih yang bermakna dan
berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama;
d. Memberi penekanan pada keterampilan berpikir
peserta didik;
e. Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat
pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam
lingkungannya; dan
f. Mengembangkan keterampilan sosial peserta
didik, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan
orang lain.
3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pembelajaran
tematik meliputi semua KD dari semua mata pelajaran kecuali agama. Mata
pelajaran yang dimaksud adalah: Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika, IPA, IPS,
Penjasorkes dan Seni Budaya dan Prakarya
Ada sepuluh elemen yang terkait
dengan hal ini dan perlu ditingkatkan oleh guru, yaitu sebagai berikut.
a. Mereduksi tingkat
kealpaan atau bernilai tambah berpikir reflektif.
b. Memperkaya sensori
pengalaman di bidang sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
c. Menyajikan isi atau
substansi pembelajaran yang bermakna.
d. Lingkungan yang
memperkaya pembelajaran.
e. Bergerak memacu
pembelajaran (Movement to Enhance Learning).
f. Membuka pilihan-pilihan.
g. Optimasi waktu secara
tepat.
h. Kolaborasi.
i. Umpan balik segera.
j.
Ketuntasan atau aplikasi.
4.
Fungsi dan Tujuan
a.
Fungsi pembelajaran tematik terpadu adalah untuk memberikan kemudahan bagi
peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam
tema serta dapat menambah semangat belajar karena materi yang dipelajari
merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi peserta didik.
b. Tujuan pembelajaran tematik
antara lain:
1)
Menghilangkan atau mengurangi terjadinya tumpah tindih materi.
2)
Memudahkan peserta didik untuk melihat hubungan-hubungan yang bermakna
3) Memudahkan peserta didik
untuk memahami materi/konsep secara utuh sehingga penguasaan
konsep akan semakin baik dan meningkat.
Secara khusus tujuan
pembelajaran tematik terpadu adalah:
1)
mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu;
2)
mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi muatan pelajaran
dalam
tema yang sama;
3)
memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4)
mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengkaitkan berbagai
muatan
pelajaran lain dengan pengalaman pribadi
peserta didik;
5)
lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata,
seperti bercerita,
bertanya, menulis sekaligus mempelajari
pelajaran yang lain;
6)
lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam
konteks tema
yang jelas;
7)
guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu
dapat
dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam
2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan;
dan
8)
budi pekerti dan moral peserta didik dapat ditumbuh kembangkan dengan
mengangkat sejumlah
nilai budi pekerti sesuai dengan situasi
dan kondisi.
5. Ciri-ciri Pembelajaran
Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu
memiliki ciri sebagai berikut:
a.
Berpusat pada anak.
b.
Memberikan pengalaman langsung pada anak.
c.
Pemisahan antarmuatan pelajaran tidak begitu jelas (menyatu dalam satu
pemahaman dalam
kegiatan).
d.
Menyajikan konsep dari berbagai pelajaran dalam satu proses pembelajaran
(saling terkait
antar muatan pelajaran yang satu dengan
lainnya).
e.
Bersifat luwes (keterpaduan berbagai muatan pelajaran).
f. Hasil
pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (melalui
penilaian proses dan hasil belajarnya).
6. Kekuatan Tema dalam
Proses Pembelajaran
Anak pada usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi
konkret, mulai menunjukkan perilaku yang mulai memandang dunia secara objektif,
bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang
unsur-unsur secara serentak, mulai berpikir secara operasional, mempergunakan
cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan
mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan
mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu, pembelajaran yang tepat
adalah dengan mengaitkan konsep materi pelajaran dalam satu kesatuan yang
berpusat pada tema adalah yang paling sesuai.
Kegiatan pembelajaran akan
bermakna jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman,
bersifat individual dan kontekstual, anak mengalami langsung yang
dipelajarinya, hal ini akan diperoleh melalui pembelajaran tematik.
Pembelajaran yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran
dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik.
7. Peran Tema dalam Proses
Pembelajaran
Tema berperan sebagai pemersatu
kegiatan pembelajaran dengan memadukan beberapa muatan pelajaran sekaligus.
Adapun muatan pelajaran yang dipadukan adalah muatan pelajaran PPKn, Bahasa
Indonesia, IPS, IPA, Matematika, Seni Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan
Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan. Dalam Kurikulum 2013, tema sudah disiapkan
oleh pemerintah dan sudah dikembangkan menjadi subtema dan satuan pembelajaran.
Di dalam Struktur Kurikulum
Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah disebutkan bahwa untuk peserta didik
kelas I sampai dengan kelas VI penyajian pembelajarannya menggunakan pendekatan
tematik terpadu. Penyajian pembelajaran untuk kelas III memiliki alokasi waktu
kumulatif 34 JP per minggu. Namun demikian penjadwalan tidak terbagi secara
kaku melainkan diatur secara luwes.
8. Tahapan Pembelajaran
Tematik Terpadu
Pembelajaran Tematik Terpadu melalui beberapa tahapan yaitu
pertama guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai muatan
pelajaran untuk satu tahun. Kedua guru melakukan analisis Standar Kompetensi
Lulusan, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan membuat indikator dengan tetap
memperhatikan muatan materi dari Standar Isi. Ketiga membuat hubungan pemetaan
antara kompetensi dasar dan indikator dengan tema. Keempat membuat jaringan KD,
indikator. Kelima menyusun silabus tematik dan keenam membuat rencana
pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu dengan menerapkan pendekatan
saintifik.
Untuk lebih jelasnya akan
dibahas di bawah ini.
a. Memilih/Menetapkan Tema
Di bawah ini adalah tema-tema
yang telah disiapkan untuk peserta didik Sekolah Dasar kelas III dan VI pada
Kurikulum 2013.
Tema-tema di Sekolah Dasar
Kelas III dan VI
|
KELAS III
|
KELAS VI
|
|
1. Perkembangbiakan hewan dan
tumbuhan
2. Perkembangan teknologi
3. Perubahan di alam
4. Peduli lingkungan sosial
5. Permainan tradisional
6. Indahnya persahabatan
7. Energi dan perubahannya
8. Bumi dan alam semesta
|
1. Selamatkan makhluk hidup
2. Persatuan dalam perbedaan
3. Tokoh dan penemuan
4. Globalisasi
5. Wirausaha
6. Menuju Masyarakat Sehat
7. Kepemimpinan
8. Bumiku
9. Menjelajah angkasa luar
|
b. Melakukan Analisis SKL, KI, Kompetensi Dasar dan Membuat Indikator
Analisis Kurikulum (SKL, KI,
dan KD serta membuat indikator) dilakukan dengan cara membaca semua Standar
Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti, serta Kompetensi Dasar dari semua muatan
pelajaran. Setelah memiliki sejumlah tema untuk satu tahun, barulah dapat
dilanjutkan dengan menganalisis Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti
serta Kompetensi Dasar (SKL, KI dan KD) yang ada dari berbagai muatan pelajaran
(PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, SBdP, dan PJOK). Masing-masing
Kompetensi Dasar setiap muatan pelajaran dibuatkan indikatornya dengan
mengikuti kriteria pembuatan indikator.
c. Membuat Hubungan Pemetaan antara Kompetensi Dasar dan Indikator
dengan Tema
Kompetensi Dasar dari semua
muatan pelajaran telah disediakan dalam Kurikulum 2013. Demikian juga sejumlah
tema untuk proses pembelajaran selama satu tahun untuk Kelas I sampai dengan
Kelas VI telah disediakan. Namun demikian guru masih perlu membuat indikator
dan melakukan pemetaan Kompetensi Dasar dan indikator tersebut berdasarkan tema
yang tersedia. Hasil pemetaan dimasukkan ke dalam format pemetaan agar lebih mudah
proses penyajian pembelajaran. Indikator mana saja yang dapat disajikan secara
terpadu diberikan tanda cek (√).
d. Membuat Jaringan Kompetensi Dasar
Kegiatan berikutnya adalah
membuat Jaringan KD dan indikator dengan cara menurunkan hasil cek dari pemetaan
ke dalam format Jaringan KD dan indikator.
e. Menyusun Silabus Tematik Terpadu
Setelah dibuat Jaringan KD dan Indikator, langkah
selanjutnya adalah menyusun silabus tematik untuk lebih memudahkan guru melihat
seluruh desain pembelajaran untuk setiap tema sampai tuntas tersajikan di dalam
proses pembelajaran. Silabus tematik memberikan gambaran secara menyeluruh tema
yang telah dipilih akan disajikan berapa minggu dan kegiatan apa saja yang akan
dilakukan dalam penyajian tema tersebut.
Silabus tematik terpadu memuat
komponen sebagaimana panduan dari Standar Proses yang meliputi berikut ini.
1)
Kompetensi Dasar mana saja yang sudah terpilih (dari Jaringan KD).
2)
Indikator (dibuat oleh guru, juga diturunkan dari Jaringan.
3)
Kegiatan Pembelajaran yang memuat perencanaan penyajian untuk berapa minggu
tema tersebut
akan dibelajarkan.
4)
Penilaian proses dan hasil belajar (diwajibkan memuat penilaian dari aspek
sikap, keterampilan
dan pegetahuan) selama proses pembelajaran
berlangsung.
5)
Alokasi waktu ditulis secara utuh kumulatif satu minggu berapa jam pertemuan
(misalnya 34 JP x
35 menit) x 4 minggu.
6) Sumber dan Media.
f. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu
Langkah terakhir dari sebuah
perencanaan adalah dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Terpadu. Dalam RPP Tematik Terpadu ini diharapkan dapat tergambar proses
penyajian secara utuh dengan memuat berbagai konsep mata pelajaran yang
disatukan dalam tema. Di dalam RPP Tematik Terpadu ini peserta didik diajak
belajar memahami konsep kehidupan secara utuh. Penulisan identitas tidak
mengemukakan mata pelajaran, melainkan langsung ditulis tema apa yang akan
dibelajarkan.
Tahapan pembelajaran tematik
terpadu dalam kurikulum 2013 langkah ke-1 sampai dengan ke-5 sudah dibuatkan
oleh pemerintah. Sementara guru tinggal melaksanakan langkah ke-6 yaitu
menyusun RPP tematik terpadu.
B. Konsep Pendekatan
Saintifik
1. Esensi Pendekatan
Saintifik/Pendekatan Ilmiah
Pembelajaran adalah proses
interaksi antarpeserta didik, antara peserta didik dengan tenaga pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan suatu
proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter setiap peserta didik
sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah,
keluarga dan masyarakat. Proses tersebut memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama
semakin meningkat dalam sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan
keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat,
berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia.
Peserta didik adalah subjek
yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi,
dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan
kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan
dalam proses kognitifnya. Agar benar- benar memahami dan dapat menerapkan
pengetahuan, peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah,
menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide
idenya.
Pembelajaran pada Kurikulum
2013 menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis proses keilmuan.
Pendekatan saintifik dapat menggunakan beberapa strategi seperti pembelajaran
kontekstual. Model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang
memiliki nama, ciri, sintak, pengaturan, dan
budaya misalnya Discovery Learning, Project-Based Learning, Problem-Based
Learning, Inquiry Learning.
Kurikulum 2013 menggunakan
modus pembelajaran langsung (direct instructional) dan tidak langsung (indirect
instructional). Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang
mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan
pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang
dirancang dalam silabus dan RPP. Dalam pembelajaran langsung peserta didik
melakukan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi,
dan mengomunikasikan. Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan
keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran (instructional
effect).
Pembelajaran tidak langsung
adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang
dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect).
Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap yang
terkandung dalam KI-1 dan KI-2. Hal ini berbeda dengan pengetahuan tentang
nilai dan sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata
pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan. Pengembangan nilai dan sikap sebagai proses pengembangan moral
dan perilaku, dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan
yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses
pembelajaran Kurikulum 2013, semua kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan
ekstrakurikuler baik yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat (luar
sekolah) dalam rangka mengembangkan moral dan perilaku yang terkait dengan
nilai dan sikap.
Pendekatan pembelajaran
merupakan cara pandang pendidik yang digunakan untuk menciptakan lingkungan
pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya
kompetensi yang ditentukan. Strategi pembelajaran merupakan langkah-langkah
sistematik dan sistemik yang digunakan pendidik untuk menciptakan lingkungan
pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya kompetensi
yang ditentukan. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan
operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan,
dan budaya. Metode pembelajaran merupakan cara atau teknik yang digunakan oleh
pendidik untuk menangani suatu kegiatan pembelajaran yang mencakup antara lain
ceramah, tanya-jawab, diskusi.
Dalam mengimplementasikan
pendekatan saintifik, materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena
yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas
kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Penjelasan guru, respon
siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang
serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur
berpikir logis. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis,
analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan materi pembelajaran. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta
empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah-langkah pembelajaran
Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ranah sikap menggamit
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi
atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.” Hasil akhirnya adalah
peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft
skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup
secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Pelaksanaan pendekatan
saintifik/pendekatan berbasis proses keilmuan merupakan pengorganisasian
pengalaman belajar melalui:
a. Mengamati;
b. Menanya;
c. Mengumpulkan
informasi/mencoba;
d. Menalar/mengasosiasi; dan
e.
Mengomunikasikan.
Pendekatan saintifik diyakini
sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi
kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive
reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning).
Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang
spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi
spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan.
2. Langkah-langkah
Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajar
sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.
Deskripsi
Langkah Pembelajaran dalam Pendekatan Saintifik
|
Langkah Pembelajaran
|
Deskripsi Kegiatan
|
Bentuk Hasil Belajar
|
|
Mengamati (observing)
|
Mengamati dengan indera
(membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau
tanpa alat.
|
Perhatian pada waktu
mengamati suatu objek/membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan,
catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task)
yang digunakan untuk mengamati.
|
|
Menanya (questioning)
|
Membuat dan mengajukan
pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi
tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin
diketahui, atau sebagai klarifikasi.
|
Jenis, kualitas, dan jumlah
pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual,
prosedural, dan hipotetik).
|
|
Mengumpulkan
informasi/mencoba
(experimenting)
|
Mengeksplorasi, mencoba,
berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen,
membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber
melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/ mengembangkan.
|
Jumlah dan kualitas sumber
yang dikaji/ digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi yang
dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.
|
|
Menalar/Mengasosiasi
(associating)
|
Mengolah informasi yang sudah
dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi
atau menghubungkan fenomena/ informasi yang terkait dalam rangka menemukan
suatu pola, dan menyimpulkan
|
Mengembangkan interpretasi,
argumentasi dan kesimpulan
mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep, interpretasi
argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua
fakta/konsep/teori, menyintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan
antarberbagai jenis fakta/konsep/teori/ pendapat; mengembangkan interpretasi,
struktur baru, argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan hubungan
fakta/konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan;
mengembangkan interpretasi, struktur
baru, argumentasi dan kesimpulan dari
konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.
|
|
Mengomunikasikan
(communicating)
|
Menyajikan laporan dalam
bentuk bagan,
diagram, atau grafik; menyusun laporan
tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan
secara lisan
|
Menyajikan hasil kajian (dari
mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik,
multi media dan lain-lain
|
a. Mengamati
Metode mengamati mengutamakan
kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode
mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik,
sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode
observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara objek yang
dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Kegiatan
mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai
berikut.
1)
Menentukan objek apa yang akan diobservasi
2)
Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
3)
Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer
maupun sekunder
4)
Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
5) Menentukan secara jelas
bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar
berjalan mudah dan lancar
6) Menentukan cara dan
melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku
catatan, kamera, tape recorder, video
perekam, dan alat-alat tulis lainnya.
Secara lebih luas, alat atau
instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi, dapat berupa daftar cek (checklist),
skala rentang (rating scale), catatan anekdotal (anecdotal record),
catatan berkala, dan alat mekanikal (mechanical device). Daftar cek
dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek, atau faktor-
faktor yang akan diobservasi. Skala rentang, berupa alat untuk mencatat gejala
atau fenomena menurut tingkatannya.
b. Menanya
Pada kurikulum 2013 kegiatan
menanya diharapkan muncul dari siswa. Kegiatan belajar menanya dilakukan dengan
cara mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang
diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang
diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat
hipotetik). Menanya dapat juga tidak diungkapkan, tetapi dapat saja ada di
dalam pikiran peserta didik. Untuk memancing peserta didik mengungkapkannya
guru harus memberi kesempatan mereka untuk mengungkapkan pertanyaan. Kegiatan
bertanya oleh guru dalam pembelajaran juga sangat penting, sehingga tetap harus
dilakukan.
Fungsi bertanya
1)
Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu
tema.
2)
Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta
mengembangkan
pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
3)
Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan
untuk mencari
solusinya.
4)
Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya
atas substansi pembelajaran yang
diberikan.
5)
Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan
pertanyaan, dan
memberi jawaban secara logis, sistematis,
dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
6)
Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan
kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
7)
Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau
gagasan,
memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi
sosial dalam hidup berkelompok.
8)
Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam
merespon persoalan
yang tiba-tiba muncul.
9) Melatih kesantunan dalam
berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
Kriteria Pertanyaan yang Baik
Kriteria pertanyaan yang baik adalah: singkat dan jelas,
menginspirasi jawaban, memiliki fokus, bersifat probing atau divergen,
bersifat validatif atau penguatan, memberi kesempatan peserta didik untuk
berpikir ulang, merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif, merangsang
proses interaksi.
Tingkatan Pertanyaan
Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta
didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus memahami
kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang
akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Bobot
pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang
lebih tinggi disajikan berikut ini.
Tingkatan Pertanyaan Kognitif
|
Tingkatan
|
Subtingkatan
|
Kata-kata kunci pertanyaan
|
|
|
Kognitif yang lebih rendah
|
Pengetahuan (knowledge)
|
Apa...
Siapa...
Kapan...
Di mana...
Sebutkan...
Jodohkan...
|
pasangkan...
Persamaan kata...
Golongkan...
Berilah nama...
Dll.
|
|
Pemahaman (comprehension)
|
Terangkahlah...
Bedakanlah...
Terjemahkanlah...
Simpulkan...
|
Bandingkan...
Ubahlah...
Berikanlah interpretasi...
|
|
|
|
Penerapan (application
|
Gunakanlah...
Tunjukkanlah...
Buatlah...
Demonstrasikanlah...
|
Carilah hubungan...
Tulislah contoh...
Siapkanlah...
Klasifikasikanlah...
|
|
Kognitif yang lebih tinggi
|
Analisis (analysis)
|
Analisislah...
Kemukakan bukti-bukti…
Mengapa…
Identifikasikan…
|
Tunjukkanlah sebabnya…
Berilah alasan-alasan…
|
|
Sintesis (synthesis)
|
Ramalkanlah…
Bentuk…
Ciptakanlah…
Susunlah…
Rancanglah...
Tulislah…
|
Bagaimana kita dapat memecahkan…
Apa yang terjadi
seaindainya…
Bagaimana kita dapat
memperbaiki…
Kembangkan…
|
|
|
Evaluasi (evaluation)
|
Berilah pendapat…
Alternatif mana yang lebih
baik…
Setujukah anda…
Kritiklah…
|
Berilah alasan…
Nilailah…
Bandingkan…
Bedakanlah...
|
|
c. Mengumpulkan
Informasi/Eksperimen (Mencoba)
Mengumpulkan
informasi/eksperimen kegiatan pembelajarannya antara lain:
1)
melakukan eksperimen;
2)
membaca sumber lain selain buku teks;
3)
mengamati objek/ kejadian/aktivitas; dan
4) wawancara dengan narasumber.
Untuk memperoleh hasil belajar
yang nyata atau autentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan,
terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Peserta didik punharus
memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam
sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Agar pelaksanaan percobaan
dapat berjalan lancar (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan
dilaksanakan murid, (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang
dipergunakan, (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu, (4) Guru menyediakan
kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid, (5) Guru membicarakan masalah
yang akan yang akan dijadikan eksperimen, (6) Membagi kertas kerja kepada
murid, (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru
mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu
didiskusikan secara klasikal.
d. Mengasosiasi/Mengolah
Informasi
Dalam kegiatan
mengasosiasi/mengolah informasi terdapat kegiatan menalar. Istilah “menalar”
dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam
Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan
pelaku aktif. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas
fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa
pengetahuan.
Penalaran dimaksud merupakan
penalaran ilmiah, meski penalaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.
Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan
merupakan terjemahan dari reasoning, meski istilah ini juga bermakna
menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks
pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada
teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam
pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan
mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan
memori.
Bagaimana aplikasinya dalam
proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk
meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut
ini.
1)
Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan
tuntutan kurikulum.
2)
Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama
guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh,
baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
3)
Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai dari yang
sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
4)
Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
5)
Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki.
6)
Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat
menjadi kebiasaan atau pelaziman.
7)
Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
8) Guru mencatat semua kemajuan
peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.
e. Mengomunikasikan
Mengomunikasikan merupakan ilmu
dan praktik menyampaikan atau mentransmisikan informasi atau aneka jenis pesan.
Selama proses pembelajaran, guru secara konsisten mengomunikasikan atau
mentransmisikan pengetahuan, informasi, atau aneka pesan baru kepada peserta
didiknya. Kegiatan mengomunikasikan merupakan proses yang kompleks. Proses
transmisi atau penyampaian pesan yang salah menyebabkan komunikasi tidak akan
berjalan efektif.
Pada konteks pembelajaran
dengan pendekatan saintifik, mengomunikasikan mengandung beberapa makna, antara
lain: (1) mengomunikasikan informasi, ide, pemikiran, atau pendapat; (2)
berbagi (sharing) informasi; (3) memperagakan sesuatu; (4) menampilkan
hasil karya; dan (5) membangun jejaring. Mengomunikasikan juga mengandung
makna: (1) melatih keberanian, (2) melatih keterampilan berkomunikasi, (3)
memasarkan ide, (4) mengembangkan sikap saling memberi-menerima informasi, (5)
menghayati atau memaknai fenemomena, (5) menghargai pendapat/karya sendiri dan
orang lain, dan (6) berinteraksi antarsejawat atau dengan pihak lain.
Seperti dijelaskan di atas,
salah satu esensi mengomunikasikan adalah membangun jejaring. Selama proses
pembelajaran, kegiatan mengomunikasikan ini antara lain dapat dilakukan melalui
model pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu
filsafat personal, lebih dari sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas
sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup
manusia yang menempatkan dan memaknai kerja sama sebagai struktur interaksi
yang dirancang secara baik dan disengaja untuk memudahkan usaha kolektif untuk
mencapai tujuan bersama.
Pada pembelajaran kolaboratif
kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar.
Sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Peserta didik berinteraksi
dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan
masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman sehingga memungkin
peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara
bersama-sama.
Ada empat sifat kelas atau
pembelajaran kolaboratif. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara
guru dan peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari
penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas
atau pembelajaran kolaboratif. Dengan pembelajaran kolaboratif, peserta didik
memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan, pengalaman
personal, bahasa komunikasi, strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan
teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Di
sini, peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang
memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. Pada pembelajaran atau kelas
kolaboratif, guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik, khususnya
untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman
mereka sendiri, berbagi strategi dan informasi, menghormati antarsesama,
mendorong tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan
kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka
mengambil peran secara terbuka dan bermakna.
Contoh Pembelajaran Kolaboratif
Guru ingin mengajarkan tentang
konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk
keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).
Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.
1)
Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh
yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2)
Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki
kartu dengan katagori yang sama.
3)
Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri
kepada rekannya.
4) Selama masing-masing
katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci
(point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
Pemanfaatan internet sangat
dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Karena memang, internet merupakan salah satu jejaring
pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah.Saat
ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi
peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia.
Penggunaan internet disarakan makin
mendesak sejalan dengan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial.
Masa depan adalah milik peserta didik yang memiliki akses hampir ke seluruh
informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima
secepat mungkin.
C. Model-model Pembelajaran
Model pembelajaran yang
mendukung penerapan pendekatan sintifik diantaranya adalah model pembelajaran
Berbasis Penemuan (Discovery Learning), Model Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem Based Learning), dan Model Pembelajaran Berbasis Proyek
(Project Based Learning).
1.
Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning)
a.
Definisi dan Konsep
1) Definisi
Discovery mempunyai prinsip
yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada
perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih
menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak
diketahui, masalah yang diperhadapkan kepada peserta didik semacam masalah yang
direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa,
sehingga peserta didik harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya
untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian,
sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan
masalah. Pada Discovery Learning materi yang akan disampaikan tidak
disampaikan dalam bentuk final akan tetapi peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui
dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau
membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu
bentuk akhir.
Penggunaan Discovery
Learning, ingin mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan
kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented.
Mengubah modus Ekspository (peserta didik hanya menerima informasi
secara keseluruhan dari guru) ke modus Discovery (peserta didik
menemukan informasi sendiri).
2) Konsep
Di dalam proses belajar, Bruner
mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta didik, dan mengenal dengan
baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu
lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik pada tahap eksplorasi.
Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu
lingkungan dimana peserta didik dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan
baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui.
Lingkungan seperti ini bertujuan agar peserta didik dalam proses belajar dapat
berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
Dalam Discovery Learning bahan
ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, peserta didik dituntut untuk melakukan
berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan,
menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat
kesimpulan-kesimpulan. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan
dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41). Pada
akhirnya yang menjadi tujuan dalam Discovery Learning menurut Bruner
adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi
seorang problem solver, seorang scientist, historin, atau ahli matematika. Dan
melalui kegiatan tersebut peserta didik akan menguasainya, menerapkan, serta
menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.
b. Langkah-langkah Operasional
Implementasi dalam Proses Pembelajaran
Langkah-langkah dalam
mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai
berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan pada model ini
meliputi hal-hal sebagai berikut.
a)
Menentukan tujuan pembelajaran.
b)
Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya
belajar, dan sebagainya)
c)
Memilih materi pelajaran.
d)
Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif
(dari contoh-contoh generalisasi).
e) Mengembangkan bahan-bahan
belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk
dipelajari peserta didik.
f)
Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang
konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
g)
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
2) Pelaksanaan
Menurut Syah (2004) dalam
mengaplikasikan model Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur
yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai
berikut.
Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini
pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya dan timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran
dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar
lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap
ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.Dengan
demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus
kepada peserta didik agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk
mengeksplorasi dapat tercapai.
Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
Setelah dilakukan stimulation
guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya
dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas
pertanyaan masalah)
Data collection (pengumpulan data)
Pada saat peserta didik
melakukan eksperimen atau eksplorasi, guru memberi kesempatan kepada para
peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.Data dapat diperoleh melalui
membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji
coba sendiri dan sebagainya.
Data processing (pengolahan data)
Menurut Syah (2004:244)
pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah
diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya,
lalu ditafsirkan.
Verification (pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara
cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan,
dihubungkan dengan hasil data processing. Berdasarkan hasil pengolahan dan
tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah
dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah
terbukti atau tidak.
Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik
kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip
yang mendasari generalisasi.
3) Sistem Penilaian
Dalam model pembelajaran discovery,
penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. Penilaian
dapat berupa penilaian pengetahuan, keterampilan, sikap, atau penilaian hasil
kerja peserta didik. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian pengetahuan,
maka dalam model pembelajaran discovery dapat menggunakan tes tertulis.
Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian
hasil kerja peserta didik, maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan
contoh-contoh format penilaian sikap seperti yang ada pada uraian penilaian
proses dan hasil belajar pada materi berikutnya.
2. Model Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang dirancang agar
peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam
memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan
berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang
sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari.
a. Konsep
Pembelajaran berbasis masalah
merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual
sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan
pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan
masalah dunia nyata (real world). Pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu modelpembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar
bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari
permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat
peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah
diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau
materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.
Ada lima strategi dalam
menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu:
1)
Permasalahan sebagai kajian.
2)
Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman
3)
Permasalahan sebagai contoh
4)
Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses
5) Permasalahan sebagai
stimulus aktivitas autentik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar